Cerpen : Apa Yang Engkau Tangisi

Apa yang kau tangisi? Apa yang kau sesalkan. Kita hidup di dunia untuk beribadah bukan? Lalu kenapa kamu menyesali takdir yang sudah Allah gariskan untukmu. Bersyukurlah. Allah tahu jalan yang terbaik untukmu.

Seandainya kecantikan bukan hal pertama yang dilihat. Sudah dipastikan, wanita tak akan berlomba-lomba untuk mempercantik diri agar terlihat menarik.

“Aku tak pernah menginginkan semua ini. Lipstik, bedak, pensil halis. Semua ini aku tak pernah ingin memakainya. Aku lelah, berdandan bermenit-menit hanya untuk terlihat menarik. Aku lelah Bi Nun, lelah..” lirih seorang wanita. Menatap, alat makeup yang berjajar rapih di meja rias.

“Ini sudah kodrat wanita, Nona Hana. Wanita memang tak akan pernah bisa lepas dari alat-alat makeup” jelas Bi Nun, membenarkan rambut Hana agar terlihat rapi.

Mata Hana terpejam erat” Aku tak cantik Bi Nun. Walau wajahku dirias sedemikian rupa. Itu tak akan merubah apapun. Semua tetap sama saja. Dia tak akan pernah mengakui diriku ada. Nyatanya kecantikan memang paling di junjung tinggi” kata Hana tersenyum getir. Menunduk, mengingat kenangan-kenangannya yang amat menyakitkan.

“Jangan bersedih nona. Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Jangan sampai ucapan nona tadi, adalah keluhan karena tak menerima takdir yang sudah digariskan Allah” tegur Bi Nun.

Kini Bi Nun membantu Hana untuk berkerudung. Meriasnya habis-habisan agar terlihat menarik di mata calon suaminya nanti. Walau Hana masih terus berulang kali menolak dan mengatakan hal yang sama. Tapi Bi Nun yakin, untuk kali ini calon suami Hana akan memandangnya dengan rasa takjub.

“Nona terlihat cantik” puji Bi Nun melihat ke kaca.

Di sana terlihat Hana yang sudah terlihat berubah. Cantik dan terlihat sangat anggun. Hanya satu yang kurang, senyuman. Senyuman yang sudah luput dimakan penderitaan dan hanya menyisakan kesedihan yang mendalam.

“Semuanya sia-sia Bi Nun. Dia tak akan melirikku. Wanita di luar lebih menarik di matanya dibandingkan aku yang biasa ini”

Bi Nun menggeleng kepala kecil” Dia akan melirik nona. Nona jangan berkecil hati, bila memang dia jodoh nona dia akan menerima nona apa adanya” kata Bi Nun tersenyum tipis, mencoba memberi semangat kepada Hana.

Hana menggigit bibir bawahnya kuat, menahan isak tangis saat melihat wanita dihadapannya bukanlah dirinya. Tapi hanya bayangan cantik, menyerupai dirinya yang mencoba mengambil perhatian calon suaminya nanti.

“Dia bukan aku Bi Nun. Dia hanya bayanganku saja, dia hanya membuat luka di hatiku semakin bertambah” kata Hana menatap cermin dengan pandangan pilu.

Merasa iba. Bi Nun memeluk Hana dari belakang. Menenangkan wanita rapuh itu agar tetap kuat dan tegar.

Kepercayaan dirinya sudah turun drastis, akibat kegagalan yang menimpanya beberapa kali. Dan itu hanya dikarenakan kecantikan. Pastilah sakit, menerima penolakan berkali-kali hanya karena wajah yang tak sesuai dengan apa yang didambakan.

“Sakit rasanya Bi Nun. Ini untuk keberapa kalinya ada yang melamarku. Tapi pada akhirnya, mereka akan pergi bagai cahaya lilin yang mati tertiup angin. Gelap dan hanya menyisakan asap hitam yang perlahan menghilang dan tak menyisakan apapun”

Perlahan air matanya turun. Namun dengan cepat Hana mengusapnya agar tak menimbulkan bekas dan merusak makeup yang sudah susah payah Bi Nun dandani.

“Aku tak boleh menangis Bi Nun. Tak boleh. Seorang Hana harus kuat dan tegar bukan? Semoga kali ini lamaran ini berjalan dengan lancar” ucap Hana tersenyum, walau dalam hati ia sekuat tenaga menekan rasa sakit.

Bi Nun tersenyum” tersenyumlah nona. Allah sangat menyayangi nona. Percayalah, akan ada seorang pria berhati mulia yang akan merima nona apa adanya dan tak akan memandang rupa. Nona cantik, sangat cantik. “Puji Bi Nun jujur. Yah. Hana cantik. Hatinya amatlah cantik hingga menutupi kekurangan yang ia punya.

Seperti yang sudah-sudah. Lagi-lagi Hana harus menelan rasa pahit yang rasanya sudah tak sanggup lagi ia tanggung. Kegagalan. Dan alasan yang sama, sudah menjadi jawaban untuk Hana.

Siapa yang mau menerima wanita sepertinya? Tak cantik, gelap dan hanya bermodalkan agama yang ia pelajari dari pesantren. Kenyataannya itu saja tak cukup, mereka mengharapkan wanita berparas cantik, menarik dan ahli ilmu agama.

Terkadang Hana ingin berteriak. Mengatakan, agar semua orang mendengar? Kalau ia bukanlah seorang bidadari surga yang sempurna. Dia hanya manusia biasa yang membutuhkan kasih sayang tulus. Salahkan ia? Mengharapkan dan menginginkan seorang pria yang mau menerima dirinya apa adanya. Salahkan?

“Sudah ku bilang kan mah! Kak Hana hanya membuat malu saja. Lihat!Sudah ada berapa banyak laki-laki yang menolak lamaran. Pokoknya, kak Hana itu hanya membuat malu saja”

“Lisa!” Bentak mamah, mendengar ucapan Lisa yang tak pantas didengar.

Lisa mendelik” Kenapa? Memang benar kan mah. Tak ada lelaki yang mau menikahi kak Hana yang jelek. Kenapa kakak tak operasi plastik saja biar cantik. Itu lebih pantas untuk kakak, agar kakak tak terus memalukan keluarga” tunjuk Lisa ke arah Hana yang menunduk, mencoba menahan sesak karena serangan yang bertubi-tubi. Di tambah, kini Lisa yang menyerangnya dengan olokan yang menyakitkan.

“Cukup Lisa. Jangan berbicara seperti itu pada kakakmu sendiri” kini Dilon yang berucap, mencoba menenangkan istrinya yang tengah marah.

Tak peduli. Lisa menepis tangan Dilon, kemarahannya masih menguap ingin ditumpahkan kepada kakaknya yang selalu membuat keluarga terhormatnya malu.

“Puas! Sekarang kakak puas. Melihat keluarga kita sudah tak punya muka lagi di mata semua orang. Harusnya kakak berpikir! Untuk meminta kembali dicarikan calon suami. Tak akan ada yang mau sama kakak. Harusnya kakak sadar diri” Hina Lisa menyurung-nyurung bahu Hana geram.

“LISA! HENTIKAN!” Bentak Dilon. Menarik tangan istrinya untuk menjauh dari Hana. Selalu seperti ini, bila Lisa marah. Dia tak pernah bisa mengendalikan emosi dan hanya semakin memperkeruh suasana saja.

“Benar kata Lisa mah. Seharusnya aku sadar diri. Mana mungkin ada lelaki yang mau menerima diriku, aku yang seperti ini hanya bisa memalukan keluarga saja. Lisa cantik mah, dia banyak yang suka. Sedangkan aku! Aku, aku hanya sebutir debu yang tak terlihat” lirih Hana memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.

Mata mamah berembun, bulir-bulir air mata sudah terlihat. Tak tahan menahan duka sang putri. Mamah segera memeluk Hana erat untuk menegarkannya kalau semua belumlah berakhir.

Tangis Hana pecah untuk sekian kalinya. Semuanya sudah membuktikan, kalau ia tak akan pernah bisa mendapatkan seseorang yang akan menemaninya sampai tua nanti.

Ia tak memerlukan yang kaya ataupun tampan. Hanya meminta, seorang pria yang tulus mencintainya dan mau menerima segala kekurangan yang ia punya. Apakah masih ada? Seorang pria yang tak melihat dari rupa.

“Assalamualaikum” salam seorang pria tua.

Mamah menoleh. Melihat seorang pria tua dan pria muda tampan sedang berdiri di depan mereka. Kening mamah mengerut, karena tak mengenal mereka. Siapa mereka? Apa suaminya yang mengundang mereka ke dalam rumah.

“Silahkan duduk” ucap mamah sopan, melepaskan pelukannya dari Hana.

Pria tua itu mengangguk. Kemudian duduk di kursi. Tak lupa, ia membantu pria tampan itu untuk duduk di dekatnya.

Satu hal yang mamah bisa simpulkan, pria tampan itu buta dan tak bisa melihat. Sayang sekali, padahal pria itu tampan dan terlihat mapan.

“Maaf, mungkin saya sudah mengganggu malam anda. Dan saya sempat melihat kalian berdua sedang menangis. Bukan maksud kami tak sopan. Tapi kami kesini ingin mengutarakan maksud kedatangan kami kemari” tutur pria tua itu sopan, tak melunturkan senyum di wajahnya yang terlihat sudah banyak kerutan.

Alis mamah menaut” apa maksudnya? Saya kurang paham” kata mamah.

Walau sebenarnya, ia sedikit menangkap maksud dari pria tua itu. Tapi yang ia khawatirkan, kalau putrinya tak akan sanggup lagi menelan kekecewaan.

“Saya ingin melamar putri anda Hana, Untuk putra kami Hasan. Putra saya Hasan adalah calon penerus perusaan LYI Company. Hidupnya sudah mapan dan berpendidikan tinggi. Walau jujur, matanya tak dapat melihat. Tapi saya yakin, hatinya dapat melihat.” Ucap pria tua itu, melihat Hana yang masih menundukan kepala.

“Saya tak cantik. Tak seperti yang ada dibayangan tuan. Saya tidak seperti wanita lain yang indah bila dipandang. Bila tuan membayangkan wajah saya, maka tuan tak akan sedikitpun mempunyai rasa tertarik kepada saya.”Jujur Hana tak ingin menutupi kekurangannya kepada pria yang ia tahu tak bisa melihat.

Kedua ujung bibir Hasan terangkat “saya teringat kisah Juwaibir. Teringat jelas saat guru saya menjelaskan tentang kisah beliau.

Juwaibir adalah sesosok pria berparas buruk, berkulit hitam dan bertubuh pendek. Tapi, Juwaibir merupakan laki-laki yang cerdas, punya semangat dan berkomitmen mencari kebenaran.

Suatu hari nabi Muhammad datang untuk menjenguk beliau. Setelah berdialog, Nabi Muhammad meminta agar Juwaibir melepaskan status bujangnya. Saat itu Juwaibir hanya seorang perantau yang tak memiliki rumah. Jadi bagi Juwaibir bagai mimpi di siang bolong bila ia menikah saat kondisinya seperti ini. Tapi karena nabi yang berucap juwaibir menerimanya.

Nabi mengarahkannya ke rumah Ziad bin Labib Al-Ansari untuk melamar putrinya. Untuk diketahui, Ziad merupakan salah satu orang terkaya di Madinah dan tokoh yang paling dihormati di sukunya.

Walau Ziad sempat ragu untuk menerima lamaran juwaibir, karena perkataan Juwaibir untuk menikahkannya dengan putri Ziad atas pesan Rasulullah. Tapi karena, mendengarkan saran dari putrinya Zalfa, anak perempuan tercinta Ziad, yang dikenal “Putri Madinah” karena kecantikannya. Supaya ayahnya Ziad bertanya kepada Rasulullah langsung dan menghentikan Juwaibir sebelum bertemu Rasulullah.

Setelah Ziad bertemu Rasulullah. Rasulullah menjelaskan, Juwaibir adalah orang mukmin sejati. Status seseorang yang dibicarakan itu sekarang telah ditinggalkan. Untuk tujuan pernikahan, setiap laki-laki yang beriman setara dengan setiap perempuan yang beriman” sejenak Hasan menghentikan ceritanya. Karena penjelasan panjangnya tadi cukup membuat tenggorokannya kering.

Hana menanggahkan kepala “Apa mereka menikah?” Tanya Hana ragu. Penasaran. Apa yang akan terjadi pada Juwaibir.

Hasan mengangguk” mereka menikah. Intinya. Rupa, harta, bukanlah segalanya. Tapi agama lebih unggul dari semuanya nona. Saya datang karena mendengar dari guru pesantren saya, kalau nona wanita yang insya Allah bagus dalam agama. Dan saya ingin meminang nona menjadi istri. Semua keputusan ada di tangan nona, walau nona menolaknya saya akan ikhlas” jelas Hasan tersenyum tulus.

“Saya tak cantik tuan” ucap lagi Hana tak percaya diri.

Pria di depannya tak bisa melihat, tentu dia tak akan masalah. Bagaimana kalau dia bisa melihat? Mungkin dia akan menyesal.

“Saya bersyukur tak bisa melihat. Kenapa? Karena dengan begitu, hati saya yang melihat, merasakan. Kalau saya sudah yakin, kalau saya ingin meminang nona Hana. Jadilah mata saya, cahaya dan petunjuk. Saat saya tak tahu harus melangkah kemana” jawab Hasan.

Kepala Hana menunduk, hatinya berdebar-debar. Kini ia merasa ragu, apa ia harus menerima lamaran atau tidak.

Walau pada akhirnya, kepalanya menganguk. Menimbulkan kelegaan bagi semua orang, terutama Hasan.

Mungkin inilah jalan indah yang Allah tunjukan untuknya. Allah memberikan pria yang lebih dari cukup untuknya. Apa yang harus Hana katakan sekarang. Bersyukur. Rasanya itu masih tak cukup untuk mengungkapkan rasa syukurnya.

“Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Bersabarlah dan Allah akan tunjukan jalan yang terbaik”

– Ade Rusmiati

Source of image 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *