Cerpen : Dimanakah Ibu Berada?

Wahai ibu, bukan harta yang akan membuat seorang anak bahagia. Tapi kasih sayang dan kehadiranmu (Kania)

Hujan deras, tidak mengurungkan niat seorang ibu yang sedang memangku bayi untuk pergi. Bermodal payung lipat, ia menyakini hatinya untuk pergi. Tidak akan ada hari esok,hanya ada hari ini. kesempatan hanya datang hari ini. Dan ia tidak boleh menyia-nyiakannya

Air mata mengalir, menghiasi wajahnya yang sudah tidak muda lagi. Sesekali ia menatap bayi mungil yang tertidur nyaman hangat di pangkuanya. Benar, pelukan seorang ibu lebih hangat dari pada hangatnya sinar mentari. Pelukan hangat yang mampu membuat seorang anak menghentikan tangis untuk merasakan lebih dalam lagi pelukan ibunya.

Lahkah kakinya terhenti di depan pintu rumah sederhana. Kepalanya tertunduk, melihat lantai keramik putih yang ia injak, berbeda dengan lantai rumahnya yang terbuat dari kayu.

Tangannya mengetuk pintu beberapa kali. hingga pintu terbuka, memunculkan seorang wanita yang membuka pintu lebih lebar agar ibu itu bisa masuk.

“Masuklah” ajaknya tersenyum. wajahnya terlihat bahagia, menyambut kedatangan ibu itu. Yah, dia bahagia karena akhirnya dia akan mendapatkan seorang bayi yang tidak bisa ia lahirkan.

“bila aku masuk ke dalam. Kakiku akan mengotori rumah” kata ibu itu melihat kakinya yang kotor.

“Tidak papa. Kaki kotor bisa di bersihkan dengan air. Aku pun tidak ingin melihat bayi ini kedinginan” balas wanita itu tersenyum, melihat bayi dalam pangkuan ibu itu.

Sejenak ada rasa berat hati, saat ia tahu keputusan ini akan sangat mempengaruhi masa depan putri kecilnya. Tapi apa yang bisa di lakukan ibu miskin sepertinya, ia tidak akan mampu menghidupi bayi yang baru dua bulan ini ia lahirkan.

Keberatannya semakin terasa, saat suaminya meninggal satu bulan yang lalu. Sedangkan ia, harus menghidupi dua anaknya yang lain. Dia bukan ibu yang tega dengan menelantarkan anaknya di depan panti asuhan bahkan pinggir jalan. Ia hanya memberikan anaknya agar bisa di asuh oleh orang lain. apa itu salah?.

Mereka masuk ke dalam rumah. Nia mendudukan bokongnya di atas shopa empuk. Bahkan ia tidak memiliki shopa di rumah. Rumah wanita itu terlihat lumayan besar, walau memang tidak terlalu besar juga. Nia sangat yakin, putrinya akan terjaga dengan baik oleh keluarga yang selalu di kenal ramah semua orang.

“Bu Nia” kata seorang pria bertubuh kurus dan rambut pendek agak keriting.

Kepala Nia megangguk canggung.

“Kami sangat berterimakasih, ibu mau mempercayai kami untuk merawat putri ibu. Insya Allah , kami akan merawat putri ibu selayaknya putri kami sendiri” ujar pria itu.

Nia tertunduk, menatap putrinya pilu”Sebenarnya saya ragu. Tapi jujur saja, saya tidak bisa menghidupi putri saya dengan ke adaan saya yang sedang begini. Tolong jaga putri saya dengan baik. Mungkin suatu hari nanti, saya akan datang kembali untuk melihatnya” ucap Nia memberikan putrinya dengan berat hati kepada wanita yang semenjak tadi tidak mengalihkan perhatiannya dari bayi yang sedang ia pangku.

“Kalau begitu saya pergi” Nia berdiri. mencoba menahan air mata yang memaksa keluar. Ia tidak boleh menangis, tidak boleh.

“Terimakasih, Bu Nia” mata wanita itu berbinar, mencium bayi dalam gendongannya beberapa kali.

Setelah berpamitan, Nia segera pergi. Hujan telah berhenti, menyisakan jalanan basah yang ia injak. Perlahan air-mata nya jatuh, namun dengan segera ia usap. Ia tidak boleh lemah, ini adalah jalan yang terbaik untuk purinya agar mendapat kan pendidikan yang baik.

“Ibu menyayangimu nak” lirih Nia memegang dadanya yang terasa sakit, saat ia harus melepas buah hati yang sudah susah payah ia lahirkan.

#23 tahun kemudian

“ASSALAMUALAIKUM!!” Salam seorang wanita nyolonong masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu.

“Mah?, Mamah?” Panggil wanita itu, melihat sekeliling rumah karena tidak menemukan ibunya yang ia cari.

Wanita itu mengacak pinggang kesal, karena tidak menemukan ibunya di mana-mana. Okhe, sepertinya hanya ada satu tempat yang belum ia cari, yaitu rumah tetangga.

Dan benar, setelah ia keluar rumah dan melihat rumah tetangga. Ternyata ibunya ada di sana. Kania mendengus sebal, melihat ibunya sedang mengobrol seru bersama tetangga sebelah.

“Mamah. Aku nyari mamah ke mana-mana. Tapi gak ketemu” keluh Kania merangkul tangan ibunya dengan wajah memelas.

“Kania kamu udah besar. Kok terus nyariin mamah” ledek ibu-ibu tetangga yang sering kania panggil bibi co. Karena wajahnya comel jadi kania panggil Co.

“Bibi co. Kania kalau gak ada mamah satu detik aja, kayanya ada yang kurang gitu”

“Hahaha. Nanti kalau nikah gimana?. Gak mungkin nempel terus sama mamah, kan?” Ujar ibu tetangga tertawa.

” Kalau Kania nikah. Tidurnya sama mamah aja, suami biar tidur sendiri. Iya kan mah?” Ucap Kania terkekeh yang langsung mendapat cubitan kecil dari Sarah, ibunya Kania.

Ada alasan, kenapa ia selalu menempel pada ibunya. Dan Kenapa, Kania tidak ingin jauh dari ibunya. Karena Kania tidak ingin ibu angkatnya pergi seperti ibu kandungnya.

Telinganya tidak tuli untuk mendengar perkataan tetangga yang membicarakan masa lalunya yang merupakan anak adopsi. Sakit, jantung Kania terasa di tikam berkali-kali saat mengetahui kenyataan. Dan lebih menyakitkannya lagi, orang tua angkatnya tidak mau jujur tentang statusnya sebagai anak angkat.

Kenapa mereka tidak mau jujur?, Pertanyaan itu sering kali ingin Kania tanyakan. Tapi tidak, Kania masih tidak bisa menerima penjelasan dari kedua orang tuanya. Biarlah Kania sendiri yang mencari kebenaran tentang keluarga kandungnya itu.

Empat tahun sudah Kania menggali informasi tentang keluarga kandungnya. Ia menanyakan kepada teman-temannya yang tahu tentang hidupnya dulu dari ibu mereka masing-masing. Ternyata semua orang tahu Kania adalah anak angkat, tapi hebatnya, semua orang tidak ada yang mau memberi tahu Kania secara langsung kalau dia adalah anak angkat. Apa semua orang mencoba bersandiwara?,

Kini Kania berada di depan rumah sederhana. Sangat sederhana dan kecil, berbanding jauh dengan rumahnya. Terkadang Kania melihat ke belakang, melihat mobil yang ia bawa dari hasil gajih nya kerja di kantor, lalu kembali melihat rumah. Apa ini rumah keluarga kandungnya?,

Mata Kania mengedar melihat tetangga yang berbisik-bisik. Apa yang mereka bicarakan?, Apa Kania terlihat aneh.

Tidak mau peduli, Kania mengetuk pintu rumah beberapa kali. Sejenak Kania ragu, karena ia memang hanya mendapat informasi dari teman-teman nya saja. Tapi kania harus yakin. Sejauh manapun ibu dan anak terpisah, pasti mereka akan kembali bertemu.

“Neng mau cari siapa?” Tanya ibu-ibu dari belakang Kania.

Badan Kania berbalik melihat ibu-ibu dengan roll rambut di kepala.

“Apa ini rumah Bu Nia?”

“Owh benar neng. Eneng siapanya yah?” Tanya nya penasaran.

“Anaknya” batin Kania pilu.

“Saya saudara jauhnya Bu” sahut Kania yang tentu berbanding terbalik dengan isi hatinya.

Kepala ibu itu memangut-mangut” owh gitu yah. Saya tetangga sebelahnya neng. Kebetulan,ibu Nia pergi keluar kota. 23 tahun udah gak pernah balik-balik lagi. Paling Eneng cuman bisa ketemu putrinya Ratih. Tapi sekarang, dia lagi kerja”

Bagai pendang yang pas menusuk jatung. Penjelasan ibu-ibu itu, sukses menyayat relung hati Kania. 23 tahun tidak pernah kembali. Terus, dimana keberadaan ibunya sekarang?

Menahan tangis,Kania kembali bertanya” kapan yah pulangnya?”

“Owh itu dia pulang”

Kepala Kania menoleh, melihat orang yang di tunjuk ibu-ibu tadi. Allah, hati Kania teriris melihat keringat di dahi dan wajahnya yang lelah dengan kedua tangannya membawa keranjang. Apa dia kakaknya?, Bahkan Kania tidak pernah merasakan selelah itu.

Dengan air mata yang membasahi wajah, Kania berlari memeluk kakaknya erat. Semua orang yang melihat terkejut,

“Ya allah kak. Ini adikmu Kania, yang ibu tinggal di rumah Bu Sarah” Isak Kania, semakin mengeratkan pelukannya pada wanita yang tadi sempat terkejut.

“Kania” wanita itu membalas memeluk Kania erat. Adiknya yang kecil sekarang sudah tumbuh menjadi wanita cantik dan juga berada. berbeda dengan nya yang hidup serba kekurangan.

“Dimana ibu kak?” Kania melepaskan pelukannya menatap kakaknya penuh pertanyaan,

“Ibu di kota dek” balasannya. Terselip nada kesedihan di setiap kata yang di ucapkan.

“Kalau begitu, kita cari ibu kak. Ayo, adek ingin bertemu ibu. Adek bawa mobil, kita bisa mencarinya sekarang” ajak Kania menarik tangan kakaknya yang terlihat mematung.

“Tidak dek. Ibu sudah bahagia” tolak kakaknya halus.

“Apa maksud kakak?. Kalau ibu sudah bahagia, kita bisa bertemu sekarang. Ayo kak” tarik Kania membawa kakaknya mendekati mobil.

“Tidak dek. Kakak udah ke sana. Dan kakak di usir” sahutnya lemah, bahkan Isak tangis sudah terdengar

“Apa maksud kakak?. Kenapa kakak di usir” tangan Kania melemas tidak lagi memegang tangan kakaknya.

Kepala Ratih tertunduk” ibu sudah punya keluarga lagi dek. Ibu tidak pernah pulang lagi, setelah memberikanmu pada Bu Sarah. Kami di rawat bibi dek”

“Ibu meninggalkan kita!” suara Kania di tekankan menuntut jawaban.

“Dia sudah bahagia. Kita tidak boleh mengganggu kebahagiaanya dek. Biarlah kita seperti ini dek, kita harus ikhlas” ucap ratih tegar, memegang pundak Kania yang masih terkejut dengan penjelasan Ratih.

“Ini karena harta kan, kak?.” Pekik Kania mundur, menjauhi Ratih dengan kecewa.

“Dek..”

“Karena harta anak di lepas!. Karena harta juga, ibu meninggalkan kita. Kakak!, Bila memang uang bisa membuat ibu kembali. Aku akan bekerja seumur hidup, untuk mengumpulkan uang. Kakak tidak perlu bekerja, biar aku yang bekerja. Kakak mau rumah dua tingkat?. Okhe, aku akan membuatkan rumah yang kakak mau. Ibu mau mobil?, Okeh, aku yang akan belikan. Kakak mau apa?, Ayo sebutkan. Adek akan memenuhinya. Adek pasti akan memenuhinya, pasti…” Suara kania mulai memelan-melemas, merosot jatuh ke tanah. Dengan tangis yang mulai pecah.

Ratih ikut tertunduk merengkuh tubuh Kania dalam pelukannya. Ia pun tak bisa menahan tangisnya saat melihat Kania menangis histeris.

“Ikhlaskan ibu dek. Biar ibu bahagia”
Ucap Ratih mengelus punggung Kania untuk menambahkannya.

– Ade Rusmiati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *