CerBung : Teka Teki Cinta Part 13

Pagi sudah kembali menjelang. Hisyam sudah berangkat kembali ke Pon-Pes Nurul Huda bersama Adam. Mempunyai kesempatan bagus, ufairah mengambil tas yang berada di atas meja rias,untuk segera beranjak pergi dari kamar.

Kejadian antara Sarah dan Zahra membuat ufairah benar-benar di buat penasaran. Walau Hisyam sudah menegurnya untuk tidak ikut campur, namun hati ufairah merasa yakin kalau masalah ini masih berhubungan dengannya.

Drrrttt Drrrttt

suara handpond ufa berbunyi, membuat ufa langsung merongoh handpond di dalam tasnya.

Terlihat di layar tertulis nomor yang tidak ufa kenal. Namun karena penasaran membuat ufa lebih mengangkatnya.

“Assalamualaikum” salam suara di sebrang terlihat lemah di pendengaran ufairah.

“Wa’alaikumsalam. Apa ini Sarah?” Tanya ufa karena suaranya sedikit sama seperti Sarah

“Temui ana di caffe rosalia,sekarang!. Jangan beritahu siapapun, atau ukhty ingin melihat ana tidak bernyawa ke esokan hari” pinta Sarah membuat ufairah syok

“A-apa maksudmu, kenapa berkata seperti itu” sahut ufa panik karena Sarah sudah membicarakan nyawa.

“Tut Tut Tut”

“Hallo!,Sarah..!,Sarah!. Apa kamu masih di sana?!” Panggil ufa berkali-kali,namun tidak kunjung mendapat jawaban.

Tidak ada jawaban, membuat ufa benar-benar di buat panik. tampa berpikir panjang, ufairah langsung keluar kamar, bahkan ia harus menahan diri untuk tidak memberitahu Hisyam tentang keberangkatannya keluar.

******

Caffe Rosalia terlihat sepi, bahkan hanya ada beberapa pengunjung yang datang. Dengan ragu ufairah masuk, tatapannya mengedar ke sekeliling tempat hingga ia menemukan seorang wanita bercadar sedang tertunduk di meja paling pojok.

Merasa yakin itu Sarah, dengan langkah ragu ufairah mendekat,semakin dekat hingga ia bisa melihat dengan jelas mata Sarah yang selalu terlihat dingin baginya.

“Assalamualaikum”salam ufa gugup

“Wa’alaikumsalam. Duduklah ufairah..”pinta Sarah menunjuk kursi di depan.

Kepala ufa mengangguk, kemudian duduk di kursi yang di tunjukan Sarah”kenapa kamu berkata seperti itu?” Tanya ufa yang sudah penasaran dengan perkataan Sarah.

“Berhati-hatilah dengan sekelilingmu ufa. Di antara mereka ada yang sedang bersandiwara, untuk menghancurkan rumah tanggamu” kata Sarah yang bahkan tidak menjawab pertanyaan ufairah.

Dahi ufa berkerut”apa maksudmu?”tanya ufa bingung dengan perkataan Sarah yang baginya terlihat penuh teka-teki.

“Ana tidak bisa berlama-lama. Ingatlah perkataan ana, saat kamu berkata dia baik belum tentu dia orang yang baik. Tapi saat kamu berkata dia jahat belum tentu dia jahat” pesan Sarah “ana pergi. Assalamu’alaikum” pamit Sarah langsung pergi, bahkan jalannya terlihat terburu-buru seakan ia sedang di kejar sesuatu.

Raut wajah ufairah masih mengguratkan kebingungan. Perkataan Sarah, benar-benar tidak ufairah mengerti. Semuanya di penuhi teka-teki dan ufairah harus bisa menyelesaikan semuanya.

Setelah ufairah keluar dari caffe, ufairah langsung berjalan pergi untuk kembali ke rumah. Ia lebih memilih berjalan kaki dari pada harus menaiki angkutan umum, apalagi jarak rumahnya dan caffe tidak terlalu jauh.

Tidak perlu waktu lama ufairah sudah berada di pertigaan jalan, merasa jalanan masih kosong ufa melintas untuk menuju ke sebrang jalan.

Dari arah lain sebuah mobil kijang putih melaju cepat, padahal di sana sudah terpasang rambu untuk jalan kaki. Seperti tidak mengetahuinya, pengemudi itu semakin menancapkan gas,hingga dengan jelas ia sudah lebih dekat dengan targetnya.

“Awassss!!!” Teriak seorang wanita mendorong ufa,membuat ke duanya terguling ke jalan.

Ufairah meringis, merasakan kakinya yang perih karena terguling di jalanan aspal, saat itu suasana sedang sepi hingga tidak ada orang yang mengerumuni keduanya.

“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya cemas seorang wanita bercadar yang ia tahu itu adalah Zahra.

“Zahra!,bagaimana bisa____awww,kakiku”ringis ufa yang merasakan kakinya semakin perih.

“Kita pulang ke rumah okhe, biar ku bantu” dengan pelan Zahra membantu ufairah berdiri,kemudian melingkarkan tangannya di pundaknya lalu membantu ufa berjalan untuk menyebrangi jalan.

Sarah yang melihat setiap kekadian dengan jelas, hanya mampu tersenyum simpul. Tampa berniat menghampiri ufa, sarah kembali berjalan saat ia tahu ufairah sudah menyebrang di bantu Zahra.

“Sepertinya aku harus menelepon kakak” aju Zahra mengeluarkan handphone untuk menelepon Hisyam, namun Segera di cegah ufa.

“Tidak perlu Zahra..aku masih bisa berjalan. Rumah kita tidak terlalu jauh dari sini, mungkin aku akan menggunakan angkutan umum” tolak ufa lembut,

Zahra mengangguk pasrah”baiklah..tapi aku akan menemanimu” ucap Zahra”Tampa penolakan!”tegasnya di akhir, membuat ufa mengangguk.

“Sebelumnya kamu terlihat dingin Zahra, bahkan ku pikir kamu tidak menyukaiku”jujur ufa terkekeh,

“Benarkah?”tanya balik Zahra yang di beri anggukan ufa

“Semua orang juga berkata seperti itu,mungkin kamu belum mengenalku saja” balas Zahra, kemudian membatu ufairah berdiri untuk kembali melanjutkan perjalanan.

*****
Di ruangan yang terlihat besar,terdapat meja panjang lebar dengan di sisinya terdapat beberapa kursi yang berjajar.

Seorang wanita tua sedang duduk di kursi utama, tatapannya terlihat tajam seakan mampu mengupas kulit orang yang melihatnya

Tidak lama,Sarah masuk. kemudian berdiri dengan jarak agak jauh dari wanita tua itu berada.

Senyum sinis terukir di bibirnya, dengan perlahan ia berdiri kemudian berjalan mendekati Sarah. Tangan sarah sudah bergetar,walau wajahnya masih terlihat tenang.

“Dari mana saja kamu!” Tanya wanita itu dengan suara tinggi.

“Akan sampai kapan bibi seperti ini. Sesungguhnya Allah maha pengampun, berubahlah..dan Allah akan memberikan kebahagian sempurna untuk bibi”nasihat Sarah yang langsung mendapat gamparan keras dari wanita itu.

“Sejak kapan kau jadi menceramahi ku!. Dengar Sarah!. Hidup dan matimu ada di tanganku. Kau dengar itu!” Bentak bibi menyurung Sarah hingga terjatuh menubruk lantai.

“Hidup dan mati ana di tangan Allah bi. Bibi tidak bisa mengatur kematian seseorang”balas Sarah lantang yang langsung mendapat pukulan sapu dari bibi. Sarah hanya diam mendapat pukulan itu berkali-kali. Bahkan bagi Sarah itu sudah menjadi makanannya. Hingga rasa sakit itu sudah tidak terasa lagi pada tubuhnya.

“Kamu hanya perlu menuruti perintahku Sarah!. Rebut Hisyam!,apa susahnya tinggal bekerja sama dengan kami. Kamu tidak perlu lagi, mendapat siksaan seperti ini” perintah wanita itu sambil berjongkok,kemudian membuang sapu ke sembarang arah “bekerja samalah. Lupakan pria pungut itu” ucap bibi dengan suara yang mulai menghalus namun tidak membuat Sarah tertipu daya.

Sarah menggeleng. masih kukuh dengan pendiriannya, yang tentu membuat bibi langsung marah” kalau kamu masih tidak mau menuruti perintahku. Maka pria itu akan ku bunuh di hadapanmu!” Ancam bibi berdiri sambil menatap tajam ke arah Sarah

“Allah melindunginya. Bibi tidak akan mampu membunuhnya!” Balas Sarah yang tidak takut dengan ancaman bibi.

Bibi berdecak” ckk. Lihatlah sahabatmu, sebentar lagi dia akan menikah dengan Adam. Saat itu semua akan berakhir. Kau paham!”

“Adam akan melamar ana, ana yakin itu!” Tolak Sarah keras

“Adam sudah menerima perjodohannya. Sudah lupakan dia!. Dan ikutlah dalam rencana kami, untuk merebut harta dermawan” pinta bibi keras namun tetap di tolak Sarah.

“Bibi yang menulis surat itu, ana sudah tahu itu. Bahkan bibi sempat bertemu dengan ibu tiri Hisyam bukan!” Tanya Sarah geram

“Sekarang aku tidak ingin mengikuti kemauan bibi!. Aku tidak ingin menambah dosa lagi dengan mengikuti kemauan bibi yang keji itu!” Tegas Sarah membuat bibi langsung menampar kembali Sarah dengan keras,bahkan darah langsung mengucur pada hidungnya.

******

Di kamar, ufairah sedang berbaring. kakinya benar-benar sakit hingga tidak bisa di gerakan. Lecet pada kakinya cukup parah. Tangan Zahra dengan hati-hati mengobati luka pada kaki ufa. Sesekali ufairah meringis perih, bahkan sampai menjerit membuat Zahra harus menutup telinga.

“Kenapa kamu terus menjerit!” Tegur Zahra kesal

“Ini sakit..rasanya sangat perih”tunjuk ufa pada kakinya dengan wajah memelas.

Zahra memutar bola mata” apa aku harus menutup mulutmu dengan losiban” katanya membuat ufa langsung terdiam,

Pintu kamar terbuka, Hisyam yang baru pulang dari pondok pesantren langsung terkejut melihat Zahra tengah mengobati ufairah.

“Assalamualaikum”salam Hisyam segera berjalan untuk menghampiri keduanya

“Ada apa dengan ufairah?”tanya Hisyam melirik Zahra yang masih fokus mengobati luka ufa.

“Dia hampir tertabrak mobil kak”

Mata Hisyam membulat, langsung melihat ufa dengan cemas” bagaimana bisa kamu hampir tertabrak mobil?” Tanya Hisyam lagi dengan marah di campur cemas bersamaan.

Ufairah tertunduk, tidak mungkin menjawab ia habis bertemu Sarah. Mungkin ini juga teguran dari Allah, karena ufa tidam meminta ijin keluar pada Hisyam” aku..baru keluar rumah” Jujur ufa pelan

Hisyam menautkan halis”kamu tidak bicara pada mas..kalau akan keluar rumah” kata Hisyam mencoba mengingat-ingat.

Ufa mengangguk pelan” kondisinya sangat mendesak, jadi aku tidak memberitahu mas”sahut ufa membuat Hisyam mendesah sabar.

“Sudahlah kak..jangan marahi ufa. Dia sedang terluka”tegur Zahra.

“Bagaimana mas tidak marah. Seorang istri seharusnya memberitahu pada suaminya bila akan keluar rumah, setidaknya mas tahu kalau kamu baik-baik saja. Sekarang lihat!,karena ufa tidak memberi tahu mas, mas jadi tidak tahu dia terluka” marah Hisyam membuat ufa langsung menunduk dalam

“Aku marah karena takut kamu terluka ufa..” kata Hisyam yang mulai menghaluskan suaranya,

“Maafkan aku mas..”sesal ufa bersalah

“Sepertinya ini urusan suami istri. sebaiknya..aku pergi.”pamit Zahra yang melihat keduanya memang butuh waktu berdua, lagian Zahra tidak ingin jadi obat nyamuk.

Setelah kepergian Zahra, Hisyam mengantikan Zahra untuk mengobati ufa. Lecet pada kaki ufa sangat parah tentu itu menimbulkan rasa cemas pada Hisyam.

“Lain kali jangan lakukan lagi” pinta Hisyam yang langsung di beri anggukan ufa.

Dengan lembut Hisyam mengobati luka ufa berbeda saat di obati Zahra yang berteriak-teriak. Ufa lebih memilih diam memperhatikan Hisyam yang menurutnya ia akui sangat tampan, Hisyam bagai pria mimpi bagi ufa. Hati ufa berdesir aneh, namun ufa sangat menikmatinya..lagian meskipun ia jatuh cinta. Itu kepada suaminya,bukan kepada orang lain.

“Untuk apa keluar rumah?”tanya Hisyam kembali membuka suara membuat ufa tersentak

“Ada urusan sebentar”sahutnya kecil

Dahi Hisyam berkerut”urusan apa?”tanyanya penasaran

“Bagaimana,dengan kondisi pesantren?. Apa mas nyaman disana?”alih ufa yang berhasil membuat Hisyam lupa dengan pertanyaannya tadi.

“Disana sangat menyenangkan, mas suka disana”sahut Hisyam semangat menceritakan semua kegiatannya hari ini.

“Apa di sana banyak wanita cantik?”tanya ufa ragu-ragu membuat Hisyam langsung terdiam. namun..tidak lama tertawa.

Wajah ufa menekuk”kenapa tertawa?”

“Apa kamu cemburu!”selidik Hisyam yang terlihat mencoba menggoda ufa.

“Aku hanya bertanya..”elak ufa kesal

“Jujur saja istriku..tidak masalah cemburu pada suami sendiri” goda Hisyam yang langsung membuat pipi ufa memerah padam.

******

Pagi hari sudah kembali menjelang. Sarah kembali berjalan di trotoar dengan lemah,sesekali Sarah berpegangan pada tembok atau tiang listrik agar tidak terjatuh.

“Aku..harus sampai ke apotik” ucap Sarah kembali berjalan untuk membeli obat untuk lukanya yang mulai parah.

Sarah terus berjalan,hingga kakinya kembali tidak bisa tegak karena sekarang ufa langsung tertunduk di jalan. Beberapa kali Sarah mencoba berdiri namun lagi-lagi gagal.

Keadaan jalan memang sangat sepi. karena sarah berangkat sengaja lebih pagi, agar tidak ada yang mengenalinya.

“Aku harus kuat. Harus kuat..” ucap Sarah mencoba menyemangati dirinya namun ternyata badannya tidak mau bekerja sama. Hingga Sarah langsung terjatuh pingsan,namun..seseorang sudah menangkap tubuh Sarah. di wajahnya sudah tergugat rasa cemas.

“Ukhty Sarah!”paniknya mengangkat tubuh sarah,kemudian memasukannya ke dalam mobil.

Mata Sarah terbuka perlahan, ia merasakan tempat yang nyaman,bahkan lebih nyaman dari pada rumahnya. Kepalanya menoleh ke kanan,melihat seorang lelaki yang sedang menyetir.

Senyum terukir kecil di bibir pucatnya”Adam..”ucapnya lirih kembali terpejam dan hilang kesadaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *