CerBung : Teka Teki Cinta Part 17

Di terlas Adam sedang termenung, hampir dari jam enam Adam duduk di kursi depan terlas. Adam masih memikirkan ucapan Sarah kemarin malam. perkataannya cukup membuat Adam tidak bisa tidur semalaman.

“Hisyam harus mengambil alih harta pak dermawan. Otomatis Hisyam harus mengambil alih kantor YIC Company. Dia pasti menolaknya, apalagi ayahnya sangat keras kepala,tidak akan bersenang hati memberikannya secara cuma-cuma “batin Adam resah karena ia tidak kunjung mendapat jawaban.

“Bukankah siang ini kalian akan pulang?” Tanya Sarah mengagetkan Adam yang sedang melamun

“Ah. Ya.. jam sembilan kami akan segera pulang. Apalagi ana dan Hisyam harus kembali ke Pon-Pes”sahutnya pelan “apa ukhty sudah baikan?” Tanya Adam tampa menoleh

“Khawatirkan saja ukhty ufairah.. sepertinya bibi sudah mulai turun tangan, tidak lagi menyuruh anak buahnya untuk bertindak” Saran Sarah menunduk dalam” kalau misal suatu hari nanti. Teka-teki ini tidak bisa terpecahkan, maka aku akan menjadi jawaban akan masalah kalian!. Dan..aku hanya ingin bilang pada akhi untuk terakhir kali. Perasaan ana masih sama,masih terlihat sama seperti kita bertemu pertama kali di Mesir” jujur Sarah tersenyum tipis Hinga kembali masuk ke dalam rumah

“Kenapa teka-teki cinta lebih sulit di pecahkan?!”keluh Adam mengacak rambutnya jengah

*******

Tok tok tok

“Ufairah!, Hisyam!. Apa kalian tidak akan turun keluar untuk makan?” Seru bibi berteriak, karena bibi belum melihat batang hidung keduanya di luar.

Ceklek pintu terbuka perlahan, memunculkan Hisyam yang terlihat tersenyum menyapa bibi. Sejenak bibi terdiam, saat matanya melihat rambut Hisyam yang terlihat basah

Bibi berdehem” ehemz. Sepertinya bibi salah memilih waktu yang tepat” ucap bibi. Membuat Hisyam langsung menegang, pasalnya dia benar-benar malu dengan perkataan bibi yang terdengar menyindir.

“Kalau kalian sudah selesai. Kalian turun kedapur okhe” pinta bibi dengan senyuman penuh arti.

Sebelah tangan Hisyam menepuk dahi pasrah”astagfirullah..sepertinya memang waktunya tidak tepat” malu Hisyam kembali menutup pintu dengan rapat.

“Apa itu bibi?” Tanya ufa ragu sambil menyisir rambutnya.

Hisyam mengangguk membenarkan” sebaiknya kita segera ke dapur. Apa kamu punya pengering rambut?” Tanya Hisyam penuh harap

“Buat apa?” Tanya ufa bingung

“Untuk mengeringkan rambut mas. Punya tidak?” Tanyanya lagi mendekati ufa lalu duduk di bawah dan ufa sedang duduk di kursi

“Sepertinya punya. Sebentar aku bawakan dulu” balas ufa setelah mengingat-ingat.

Hisyam bernapas lega”setidaknya aku tidak akan di ledek habis-habisan” gumamnya membayangkan semua orang akan menjadikannya bahan gurauan.

Setelah selesai,mereka segera turun ke bawah. Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Wajah bibi langsung menunduk menahan lucu, saat ia mengingat pertemuannya dengan Hisyam tadi.

“Tumben lama turun?”tanya paman heran ke arah hisyam dan ufa yang langsung tercekat.

“Kami..sedang beberes kamar dulu” kilah Hisyam terkekeh canggung. Paman mengangguk faham

“Mereka kan harus berusaha, supaya cepat-cepat punya momongan. Iya.. kan?” Seru bibi semangat membuat Hisyam dan ufa langsung tersentak

“Uhuk” Adam terbatuk-batuk menahan tawa,membuat Hisyam mendeleknya tajam.

“Kia, berhenti menggodanya!”Tegur Rais menatap kia.

“Baiklah..baiklah. bibi hanya bercanda”guraunya cekikikan “tapi..benar lohh..bibi sangat berharap, ufa cepat-cepat punya bayi. Bibi rindu suara bayi di rumah ini” pinta bibi membuat ufairah merasa malu

“Bibi..”keluh ufa memelas, karena bibinya sudah benar-benar membuat Hisyam tidak bisa berkata lagi.

 

Sarah yang hanya diam,seperti tidak tertarik dengan pembicangan yang terjadi. Tatapannya masih tertuju pada gelas yang berada di hadapan ufa. Adam yang menyadari Sarah yang diam, menoleh sejenak hingga tatapan mereka saling bertemu.

“Buka surat!”pinta Sarah tampa bersuara namun masih dapat di pahami Adam.

Dengan hati-hati Adam membuka surat yang Sarah kirimkan lewat kolong pintu kamarnya

“Mereka menyimpan racun di minuman semua orang. Seseorang tadi pagi datang, dan memberikan teh pada bibi. Kemungkinan dia kenalan bibi, tapi saat aku memeriksanya lagi teh itu beracun. Jangan biarkan semua orang minum minuman teh itu!” Peringatan Sarah membuat Adam panik

“Adam!” Tegur Hisyam melihat Adam yang terlihat hanya menunduk.

Adam langsung menoleh berusaha kembali tenang” ah yah..apa?” Tanya Adam

“Apa kalian tidak akan minum?. Teh ini pemberian tetangga bibi tadi, katanya sangat enak. Dan bibi sudah mencium aromanya, sangat..harum” puji bibi yang hendak minum

“Bibi!” Cegah Adam, mengurungkan niat bibi untuk minum

“Iya”sahut bibi melirik Adam

“Bagaimana kalau hari ini . biar aku, yang menyiapkan minuman. seperti.. jus misalnya”saran Adam yang terdengar aneh di pendengaran Hisyam

“Tidak biasanya..kamu mau buat minuman.”sahut Hisyam mengerutkan kening

Merasa Adam sudah terpojok,Sarah menghela napas”sepertinya..aku menyetujui saran Adam. Sebaiknya, aku meminum jus untuk kesehatanku, ku harap kalian mau menemaniku meminumnya”pinta Sarah tersenyum, kini ufa lah yang di buat bingung karena Sarah yang terlihat ramah.

“Tapi teh nya nanti mubasir”sahut bibi,menunjuk teh yang sudah di buatkan olehnya

“Bolehkan untuk hari ini.. aku tidak akan memintanya lagi..” bujuk Sarah memohon membuat bibi langsung luluh

“Baiklah..tapi biar bibi yang buatkan!. Kalau Adam mau bantu, ayo ikut bibi” ajak bibi semangat langsung berdiri.

“Kalau begitu, aku akan merapihkan semuanya” kini ufa yang ikut bersuara, kemudian membereskan semua gelas

“Biar mas bantu!” aju Hisyam ikut membatu ufairah”apa kamu mencurigai sesuatu” bisik Hisyam pelan,

Ufa mengangguk kemudian berbalik, lalu berjalan meninggalkan meja makan di ikuti Hisyam di belakang” sebaiknya kita bicarakan nanti. Di sini sedang ramai” sahut ufa pelan, sambil membuang semua air teh di bak cucian piring. kemudian mencucinya,di bantu Hisyam yang membersihkannya

“Rambutmu sangat harum” puji Hisyam mencoba menggoda kembali ufa. Dan itu sukses membuat pipi ufa kembali merona

“Berhenti menggoda. Atau..”sambil menyodorkan spons ke arah hisyam” aku cuci wajah mas dengan sabun cuci”ancam ufa yang sudah greget dengan tingkah suaminya.

Hisyam tertawa kecil” kalau Berani ya tinggal saja” tantang Hisyam tidak takut, membuat ufa langsung mengoles pipi hisyam dengan sabun cuci

“Jadi..kamu benar-benar melakukannya” kaget Hisyam yang kembali memoles wajah ufa dengan sabun cuci. Pada akhirnya mereka tertawa sambil menjahili satu yang lainnya.

****

Mobil hitam terparkir tidak jauh dari rumah pak Rais. Lasmi sedang duduk di kemudi mobil,tatapannya tidak teralihkan untuk memantau rumah itu.

“Sarah menyadarinya nyonya”lapor seseorang yang muncul dari balik jendela pintu mobil.

Lasmi tersenyum simpul”sudah ku duga. Sarah itu pandai, dia bisa membedakan makanan beracun dan tidak. Kejadian seperti ini, pasti dapat di tebak dengan mudah oleh Sarah” sahut Lasmi berdesis kesal. karena Sarah selalu merusak rencananya yang ia susun dengan susah payah.

“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya nyonya?” Tanya pria itu.

*******

Setelah makan, Hisyam sudah bersiap-siap untuk kembali pulang. Mereka datang tidak membawa apa-apa, hingga tidak banyak yang di bawa kecuali buku ufa yang di dalam kardus.

“Apa kamu benar-benar akan membawanya?” Yakin Hisyam sambil mengangkat satu kardus di tangannya

Dengan yakin ufa mengangguk”tentu saja!. Aku juga akan membawa buku ini, ini dan ini” kata ufa sambil menyimpannya di atas kardus yang Hisyam pangku

“ku rasa ini terlalu banyak”keluh Hisyam yang merasa berat dengan kardus di tangannya, apalagi ufa menambahkan beberapa buku lagi di atasnya.

“Ini tidak banyak mas.. sekarang ayo kita pulang” ajak ufa semangat meninggalkan Hisyam yang hanya mendengus pasrah.

“Terkadang suami harus mengerti ke inginkan istrinya” gumam Hisyam lesuh, sambil berjalan untuk menyusul ufa yang sudah berada di ruang tamu.

“Jadi kalian mau pulang sekarang?” Kata bibi dengan raut kecewa

Ufa tersenyum” kami harus pulang bibi..apalagi Hisyam dan Adam, jam sembilan harus kembali ke Pon-Pes untuk mengajar”sahut ufa menenangkan kemudian memeluk bibinya hangat

“Sejak kapan antum jadi lelaki penurut” ledek Adam menahan tawa. karena melihat Hisyam sedang membawa kardus dengan beberapa buku di atasnya.

“Jangan menertawai ana Adam. Suatu hari nanti, antum bakal merasakan yang ana rasakan” timbal Hisyam kesal, membuat Adam tertawa kecil.

“Sayang sekali Zainal sedang di pesantren. Jadi dia tidak bisa bertemu kalian” sesal Rais

“Tidak papa paman..mungkin setelah Zainal pulang. kami akan kembali menemui dia” tenang Hisyam tersenyum yang di beri anggukan Rais.

“Aku tidak akan ada di antara mereka, ini akan sangat berbahaya.” batin Sarah melihat Adam,ufa dan Hisyam dengan cemas walau wajahnya terlihat tenang.

“Sarah aku akan pulang. Tolong jaga adikku”pinta ufa lembut memeluk sarah,yang di balas Sarah dengan tepukan tangan Pelan di punggung ufa.

“Terimakasih. Maaf sudah merepotkan ukhty” ucap Sarah melepaskan pelukannya.

Ufa menggeleng kecil” aku senang kamu mau mulai bicara padaku. Itu membuatku sangat bahagia” sahut ufa jujur membuat hati Sarah mencelos,karena dulu ia sempat mau merusak hubungan Hisyam dan ufairah.

“Ufa..tolong. berhati-hatilah, jangan biarkan orang melukaimu. Teruslah di dekat Hisyam, jangan biarkan kalian membelah jarak yang sudah terhubung” amanat Sarah yang langsung di beri anggukan ufa.

“Tentu saja. Terimakasih”

*******

Mobil hitam langsung melaju pergi,saat mobil Hisyam mulai keluar dari halaman rumah pak Rais.

“Sarah tidak akan bisa ikut campur lagi sekarang. Dan ini waktunya aku mengakhiri semuanya” gumam Lasmi kemudian mengambil handpond di tas lalu menempelkannya di telinga dan tangan kanannya fokus menyetir

Setelah nada tersambung terdengar, Lasmi langsung tersenyum tipis”Sekarang lakukan apa yang ku perintah. Tabrak mobil mereka, pastikan mereka tidak bernafas untuk hari esok Tut” dengan cepat Lasmi mematikan telepon

“Selamat tinggal anak,menantu. Semoga kita bertemu di surga” kata Lasmi kembali menancap gas nya,hingga mobilnya melaju lebih cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *