CerBung : Jembatan Takdir Part 02

Mobil hitam Jeep Wrangler melintasi perkampungan dengan kondisi jalan rusak parah, banyak lubang sana-sini, tak sesekali mobil yang di tumpangi Hakim dan rekan kerjanya Teo, harus bergoyang-goyang.

Untuk seorang Teo yang baru pergi ke kampung perdalaman, tentu ia merasa seperti ikan dalam aquarium. Kepalanya pusing dan mual-mual akibat goncangan dalam mobil. Beberapa kali pria itu meminta Hakim untuk menghentikan mobilnya. Sementara, dia bisa mengeluarkan sesuatu dalam perut yang memaksa ingin keluar dari mulut.

“Gue ngerasa mau mati diperjalanan tadi.” Teo kembali muntah, sedangkan Hakim memijit-mijit pundaknya supaya dia cepat baikan.

“Buktinya lo masih hidupkan? Jadi gak usah lebay,” Jawab hakim enteng.

Teo mendelik, hingga dia kembali muntah. Wajahnya sudah pucat-pasi, badannya pun terasa lemas. Ini keadaan buruk yang dialami Teo selama dia hidup.

“Kurang ajar banget lo jadi sahabat.” Jawabnya lemah, menyandarkan punggung di badan mobil.

Hakim berdecak.”Lo ini ngerepotin. Makanya, jadi pria jangan terlalu kekotaan, jadi kalau dapat jalan begini bikin repot.” Ledek Hakim.

Waktu mereka jadi banyak tersita karena Teo terus meminta Hakim untuk menghentikan mobil, sedangkan perjalanan mereka ke desa masih jauh. Ini baru setengah perjalanan mereka ke kampung yang ingin dituju dan entah jalan seperti apa lagi yang akan mereka hadapi, tahu begini Teo memilih tidak ikut saja.

Melihat Teo sudah mulai baikan, Hakim kembali masuk mobil. “Ayo, lanjutkan perjalanan.” Ajaknya menghidupkan mesin mobil.

Wajah Teo merengut lesuh.” Gue benar-benar udah gak kuat lagi. Jalanan ini lebih menyiksa dari pada diputuskan Selena Gomes,” keluhnya, walau akhirnya ikut masuk juga kedalam mobil dengan malas.

Hakim meninjak pedal gas, kembali melanjutkan perjalan. Semakin dalam, jalanan semakin rusak parah. Jantung Teo sudah berdebar-debar, khawatir kalau ia akan mati muda. Janganlah, dia belum menikah dengan Katty Perry. Bahkan ia masih mempunyai mimpi untuk memiliki 12 anak.

“Pelan-pelan Hakim! Gue gak mau mati disini.”Wajah Teo makin was-was, malihat batu besar di tengah jalan berpasir.

“Berisik!.”

“Berisik bagaimana?! Jantung gue hampir copot. Ambil jalan lain yang lebih bagus.” Perintah Teo jengkel.

Mata hakim berputar malas, dari tadi telinganya sudah terasa panas mendengar keluhan dan ocehan Teo disepanjang perjalanan. Sedangkan ia harus fokus menyetir mobil, untung mereka masih selamat sampai sekarang.

” Lo pikir ini kota, banyak jalan tikus.” Hakim menjawab kesal.

“Pokoknya gue mau jalan bagus. Terserah mau terbang atau ngerayap,”

“Lo gak bisa diem, gue turunin ditengah jalan.” Ancam Hakim, sukses membuat bibir Teo bungkam.

Tidak lama perkampungan kecil mulai terlihat. Rata-rata rumahnya panggung. Anak-anak yang melihat mobil Hakim lewat langsung berseru senang, bahkan ada yang sampai mengejar-ngejar mobilnya cukup jauh.

“Deso amat sih tuh Anak. Kayak gak lihat mobil aja,” gerutu Teo, melihat anak-anak dari kaca spion mobil luar, mereka sedang melambai-lambaikan tangan ke arah mobil.

“Lo itu terlalu banyak bicara. Biarin aja kali, disini memang jarang ada mobil lewat. Jadi wajar aja kita jadi pusat perhatian,” sahut Hakim.

“Yaelah, tapi gak gitu juga amat kali, Kim.”

“Terserah lo aja deh. Bentar, To. Gue agak lupa nih, setelah ini kemana, yah?” Hakim menghentikan mobil, tepat di pertigaan jalan.

Teo melirik Hakim.” Jangan bercanda deh, Kim. Gue gak mau kita nyasar dan jadi manusia purba kala disini.” Ucapnya, melihat disekelilingnya hanya terdapat pepohonan rindang layaknya hutan.

Hakim diam, mencoba mengingat-ingat jalan. Sudah lama dia tak kesini, jadi wajar kalau dia lupa. Di pinggir jalan, seorang bapak-bapak tengah memangkul kayu di pundak sedang berjalan ke arah mobil. Sepertinya dia tahu kalau mereka sedang kebingungan.

“Eh, Kim. Tuh, bapak-bapak mau ngapain kesini, jangan-jangan mau ngerampok lagi.” Tunduh Teo khawatir.

“Lo ini kalau ngomong suka sembarangan. Mungkin dia tahu kita sedang kebingungan. Udahlah, gue keluar aja mau nanyain jalan,” Hakim keluar mobil.

Teo mendengus, ikut keluar mobil. Sahabatnya ini memang paling susah diberitahu, kalau udah kejadian baru nyesel.

Dia menatap bapak-bapak itu penuh selidik, bajunya kusut, kotor dan bau keringat. Membuat Teo menutup hidungnya dengan tangan, sedangkan Hakim hanya bisa mendesah pasrah dengan kelakuan Teo yang tak sopan. Menyadari bajunya bau, bapak itu menyimpan kayu ke tanah. Dia tersenyum ramah kearah Teo dan Hakim.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ade-ade ini teh mau kemana?” Tanya Bapak itu.

Sejenak dia melihat penampilan Hakim dan Teo. Mereka memakai pakaian resmi, seperti orang kantoran. Sudah pasti, mungkin mereka bukan orang sembarangan.

Hakim tersenyum.” Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Balasnya, disusul Teo dengan balasan ketus. Dia masih merasa tak suka dengan bapak-bapak didepannya ini.

“Saya berasal dari kota Jakarta. Mau cari kampung, Nona Aiza. Saya dengar, sebagai pembatas kampungnya ada jembatan gantung. Bapak tahu, dimana tempatnya?”

“Owh jembatan gantung. Kalau disini, sering disebut jembatan takdir, Jang.” Jelas Pak Mulyadi terkekeh.

Alis Teo naik sebelah.” Kenapa disebut jembatan takdir? Memang itu jembatan, nentuin takdir manusia, yah?” Tanyanya tertawa.

Pak Mulyadi menggeleng-gelengkan kepala.” Bukan Jang. Itu satu-satunya jalan untuk menuju ke kampung dan desa lain. Jadi kalau anak muda yang mau mengenyam pendidikan tinggi, pasti lewat jembatan itu dulu, nanti pulang-pulang udah sukses aja.”

Tawa Teo semakin terbahak-bahak,” Gini, Pak. Perlu diluruskan, mungkin maksudnya, itu satu-satunya akses jalan agar warga bisa keluar dan mencari penghasilan. Bukannya pergi dan kembali langsung sukses.” Teo menepuk kening merasa lucu sendiri mendengar jawaban Pak Mulyadi.

“Maksud Pak Mulyadi, tidak jauh seperti itu TOTO.” Hakim melirik jengkel Teo, dia selalu saja berucap seenaknya dan tak memikirkan perasaan orang lain.

Bahu Teo begedik tak perduli.” Pak Mulyadi, memang salah. Yah harus gue luruskan dong, bener gak Pak?” Ujarnya meminta persetujuan.

Pak Mulyadi mengangguk setuju.

“Ya udah, gini aja. Bapak ikut kami ke kampung yang ada jembatan takdirnya. Nanti kalau udah sampai, saya akan anterin bapak lagi ke kampung. Bagaimana?,” Tawar Hakim mencoba bernegosiasi.

Pak Mulyadi tersenyum.” Tak perlu di anterin, Jang. Kampung Bapak memang disana,” sahutnya nyengir.

“Bagus kalau begitu, berarti kita bisa kesana bersama-sama. Ayo, kita berangkat sekarang, Pak.” Hakim masuk ke dalam mobil, tak perduli dengan gerutuan Teo harus semobil dengan Pak Mulyadi.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke kampung sebelah. Karena tidak ada jalan untuk mobil, akhirnya mobil Hakim disimpan di rumah Pak RT sedangkan mereka kembali melanjutkan perjalan dengan jalan kaki.

“Kaki gue sakit, Kim” Teo berbaring lemas di tanah, untung tanahnya kering.

“Yaelah, baru juga 20 menit kita berjalan. Udah lemes aja,” ledek Hakim kesal.

“Gue ini anak kaya asli, gak bisalah jalan kaki. Harusnya naik mobil, motor minimal sepedahlah,” keluhnya masih tak mau melanjutkan perjalanan.

“Udah biarin aja, Pak. Mending kita lanjutkan perjalanan aja, paling dia dimakan macan dihutan.” Pak Mulyadi mengangguk, kembali melanjutkan perjalanan.

Takut di tinggalkan dan dimakan macan, Teo berlari menyusul langkah hakim yang cepat. Wajah Teo Cemberut, sesekali pria itu menendang batu kemana saja untuk meluapkan kekesalannya pada Hakim.

“Sampai..” seru Pak Mulyadi menunjukan jembatan gantung di depan mereka.

Jembatan gantung kayu dengan lebar mungkin bisa dimasuki dua motor, itu terlihat mengerikan di mata Teo. Apalagi dibawahnya jurang, kerongkongannya langsung kering dan suaranya tercekat hingga susah bicara. Hakim sudah memberikan kode mata kepada Pak Mulyadi untuk menarik Teo dan akhirnya, jadilah kegiatan saling tarik-menarik.

“Gue kagak mau lewat sana! Pokonya kagak mauuuu…”Tolak Teo ogah-ogahan, sampai harus tarik-tarikan dengan Hakim untuk segera lewat jembatan.

“Kita harus cepat-cepat ke desa, Teo!” Perintah hakim, tak bisa dibantah.

“Mamiiiiiiiiiiiiiii” teriak Teo, membuat burung-burung di hutan langsung berterbangan.

Dikelas pembelajaran terasa tak tenang, atap-atap kelas sudah banyak yang bolong. Ini sangat berbahaya untuk murid-murid yang sedang belajar. Bahkan sesekali ada atap yang jatuh dan hampir menimpa salah satu murid, merasa tak aman Aiza memindahkan muridnya untuk belajar di luar kelas.

“Maaf yah, anak-anak. Kita belajar diluar kelas dulu, nanti kalau kelas kita sudah bagus kita bisa belajar lagi di dalam.” Ucap Aiza tersenyum, dalam hati ia merasa getir.

“Baik, Bu.” Balas mereka serempak.

Salah satu murid berdiri, dia tersenyum lebar.” Ibu guru kan pernah bilang. Menuntut ilmu itu harus memerlukan perjuangan, mungkin ini perjuangan kami semua untuk sukses dimasa depan. Kami tak boleh takut dengan atap roboh, tak boleh takut dengan hal apapun kecuali Allah SWT. Bukankah ibu guru juga bilang, penjabat-penjabat tinggi pun harus berjuang dulu untuk sukses. Dan kami ini calon-calon orang kaya.” Kata siswa kelas 5 bernama Bumbun lalu tertawa, diikuti murid-murid yang lain.

Tak terasa air mata Aiza meleleh, melihat semua murid-muridnya tidak pernah mengeluhkan keadaan kelas yang buruk. Mereka tetap mau menuntut ilmu, tak pantang menyerah dan tak mundur di tengah jalan. Mereka malah menganggapnya perjuangan.

“Kata ayah saya, Tuan besar akan segera datang dan kelas kita akan bagus kembali seperti dulu.” Seru semangat Laila anak berusia 10 tahun, dia anak RT di kampung.

“Horeeeee, tuan besar datang.” Mereka mengangkat kedua tangan keatas bahagia.

Aiza memandang langit biru, awan-awan putih bergerak pelan diatas langit. Harapannya kini hanya ada pada Hakim, semoga saja pria itu mau membantu memperbaiki sekolah dan membantu mewujudkan setitik harapan kecil mereka untuk belajar.

Aiza juga berharap, semoga si Tuan besar tidak berniat balas dendam akibat postingan jeleknya pada Instagram, semoga saja. Ia akan sujud syukur bila pria itu benar-benar melupakan kesalahan yang sudah dia perbuat.

Bersambung..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *