Cerpen : Carok

Aku menggenggam erat celurit keramat ini dan berusaha untuk tidak terjerat oleh mimpi sebelum pagi benar-benar terang. Celurit yang baru saja dipanaskan kembali oleh bara api ini adalah celurit yang dipercayai sebagai warisan dari Kyai Pratali.

Dyah Ranadewi datang dengan membawa tutul. Aku melihat matanya yang ringkih dan sendu. Berbeda sekali dengan yang aku ingat dalam tatapannya selama ini. Aku selalu menerima tatapan yang dingin dan penuh gertakan olehnya. Tatapan itu sudah aku terima sejak kami masih anak-anak.

Semuanya berawal dari percakapan Bapak dengan Kyai Saiful di Masjid. Aku hanya menampung semua rasa penasaran dalam percakapan mereka. Waktu itu mereka berbicara sambil memandangku berkali-kali.

“Cak Pardi, ada baiknya sebagai perantau kita harus segera mengawini kacong kita sejak dini. Agar mereka tidak salah memilih istrinya. Agar tidak ada perkawinan campur.” Kata Kyai Saiful.

Setelah percapakan itu, Bapak dan Ibu datang ke rumah keluarga Brahim. Mereka membawaku juga. Pertama kalinya aku melihat Dyah. Kami berdua menggunakan pesa’an . Kami telah dikawinkan dan akad nikah dilaksanakan setelah kami sudah baligh. Saat itu aku berusia delapan tahun dan ia lima tahun. Sebenarnya, bukan waktu yang tepat untuk mengingat hal itu lagi sekarang. Aku tidak dapat menyangkal. Tatapan gertak Dyah yang telah aku terima sulit aku lupakan. Di tengah keriuhan kegembiaraan kedua keluarga kami, ia datang membawa tutul kepadaku dan berkata “Awas kau! Jika kau berani merasa aku istrimu, akan kuracuni kamu!”.

Sejujurnya aku pun tidak setuju dengan pernikahan ini. Bagaimana mungkin Tuhan, yang dipercaya akan menentukan garis perjodohan kepada umatNya, memperjodohkan kami hanya sebatas pada persamaan agama dan suku? Tapi itulah yang terjadi. Aku pun tidak dapat melawan sebuah tradisi leluhur atau tepatnya tak memiliki nyali untuk melawan. Maka, seperti Dyah, diam-diam kubenamkan kegelisahan ini pada misteri masa depan kami kelak.

Bapak selalu datang membawa sekeluarga tiap akhir bulan ke rumah keluarga Brahim. Tujuanya demi menjaga hubungan ikatan keluarga yang sudah terbentuk. Tradisi kunjungan ini terus berlangsung dan tidak pernah terlewatkan hingga aku berusia delapan belas tahun. Selama kurun waktu itulah, Dyah berubah menjadi gadis cantik namun tidak pernah mengubah cara menatap aku semenjak pertama kali bertemu. Tetap dengan penuh gertakan. Aku kehilangan peta sebagai seorang laki-laki. Setidaknya, gadis itu masih dapat menunjukan ketidak setujuannya dengan melampiaskan kepadaku. Sedangkan aku, hanya diam dan menerima seakan damai.

“Jangan pikir aku suka padamu!” Kata Dyah pada disuatu kesempatan.

“Aku tahu.” Jawabku.

“Lalu, mengapa kau masih ingin menikahi aku?”

“Apa yang dapat aku lakukan?”

“Katakan bahwa kau tidak ingin pernikahan ini.” Dyah mulai meninggikan nada bicaranya.

“Mengapa tidak kau saja yang katakan itu pada mereka?”

“Karena aku perempuan.” Setelah menjawab itu, Dyah melengos meninggalkan aku.

Seperti ada sebongkah es yang masuk ke dalam dadaku. Memberi rasa dingin dan sesak mendengar jawaban Dyah. Ia benar bahwa dalam situasi ini, sebagai laki-laki harusnya aku lebih berani untuk mengatakan hal yang tidak aku setujui. Akan tetapi, sebagai putra yang telah diberkati dengan ajaran leluhur, tidak sanggup melanggar janji babtis yang sudah dicurahkan padaku.

Pada suatu malam benderang, Ibu menghampiriku di dalam kamar. Ia tersenyum dan bertanya “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?”

Sebagai Ibu, aku paham bahwa ia pasti tahu ada kegelisahan yang tertanam dalam benak anaknya. Hanya saja, sebagai istri pun ia harus tetap menjaga agar keluarga tidak perlu menghadapi konflik yang dapat dihindari dengan cara berdiam. Terlebih, adat kami tidak mengenal istilah konflik kecil. Besar atau kecil sama saja jika bertubrukan dengan harga diri.

“Apakah èbu yakin bahwa pernikahan ini juga sesuai dengan kehendak leluhur dan Allah?” Tanyaku.

“Apa maksudmu?”, Ibu kemudian tersenyum dan membelai rambutku. “Jika bukan kehendak leluhur atau Allah, tidak mungkin kalian seminggu lagi akan akad nikah.”

“Tetapi…” Aku berusaha mencari kalimat yang tepat, namun tidak aku temukan.

“Tetapi apa, Nak?”

“Tidak. Èbu mungkin benar. Kita akan lihat kehendak leluhur seminggu lagi.”

Sejak Emba ikut program transmigrasi dari kolonial Belanda, Bapak tumbuh besar dan menikahi Ibu di Kalimantan Tengah. Sebagai putra Madura, aku tidak pernah menginjak tanah leluhurku. Aku lahir dan besar di kampung Keraya yang terletak di daerah Kumai. Aku dididik untuk menghormati leluhur yang asal-usulnya jauh dari tanah kelahiranku.

Aku menulusuri jalan kampung lantaran cemas soal akad nikah. Saat langit malam tersibak dan purnama tetap setia dengan cahayanya. Mata aku tertuju di ujung jalan menuju pasar, Dyah sedang berjalan dengan pemuda. Aku segera bersembunyi di balik pohon. Sehelai selendang merah terlilit di leher Dyah. Ia tersenyum pada pemuda itu dalam setiap percakapannya. Tidak ada mata yang menggertak. Berbeda sekali cara menatapnya jika berhadapan denganku. Aku tahu karena ia tidak membenci pemuda itu. Aku membiarkan mereka melewati pohon tempat aku bersembunyi. Mereka tidak menyadari kehadiranku.

Aku terus menatap punggung mereka. Jantungku bertalu kencang. Dyah sangat tak ingin kami menikah. Aku masih ingat dengan gertakannya untuk meracuni aku. Apa mampu aku menghindari sepanjang hidup bersamanya untuk tidak kena racun dia?

Tiba-tiba aku memanggil “Dyah!”

Mereka sontak membalikan badannya. Sekarang aku dapat melihat jelas siapa pemuda yang jalan dengan calon istriku. Dia tidak seperti kacong Madura. Aku meyakininya ia adalah pemuda lokal.

“Kau tahu apa yang sedang kamu perbuat?” Tanya aku pada Dyah.

Dyah yang berusaha menutup ekspresi kaget terhadap kejadian ini berkata “Apa urusan kamu? Aku belum jadi istrimu dan tidak akan!”

Kutatap pemuda itu dan mendadak aku jadi kehilangan kendali. Kuhantam pemuda tadi sampai jatuh, kutindih dadanya dengan lutut, lalu kulepaskan tinju ke wajahnya dan sebelum tinju kedua, tanganku ditahan oleh Dyah.

Beberapa warga kampung yang datang karena mendengar keributan ini berusaha untuk memisahkanku dari pemuda itu. Sekujur tubuhku panas dan aku dapat merasakan aliran darah yang cepat naik menuju kepalaku. Lalu aku berkata “Lebbhi bagus pote tolang etembheng pote mata.”

Dyah kaget saat mendengar perkataanku. Kini ia tidak mampu menutup ekspresi ketakutannya. Wajahnya kini menjadi pucat dan berkali-kali menggelengkan kepala sambil menatap aku.

“Tidak, Dyah. Tekadku sudah bulat. Mari kita lakukan Carok!” Kemudian aku meninggalkan mereka dalam kerumunan warga kampung.

Sebagai keluarga yang sangat memegang nilai leluhur meski jauh dari tanah Madura, Bapak memuji keputusanku untuk menantang carok  ke pemuda itu. Baginya, harga diri seorang putra Madura perantau tidak boleh ditawar. Meskipun aku dapat melihat raut wajah Ibu penuh khawatir ditumpahkan untukku, ia tetap diam dan patuh dalam setiap keputusan yang diambil. Begitu juga dengan Keluarga Brahim, mereka sangat malu dengan perbuatan putrinya. Namun, mereka berpihak padaku dan berharap aku menang dalam Carok ini. Tentu saja, mereka menginginkan aku akan tetap menjadi suami bagi putrinya. Mereka semua yakin bahwa aku dapat memenangkan duel ini. Semenjak kecil aku sudah dilatih menggunakan cerulit.

Duel akan dimulai pagi sekali. Malam sebelum duel, aku dan pemuda itu diisolasi dalam sebuah gubuk yang berdampingan. Tiap gubuk dijaga oleh warga kampung agar dari kami tidak ada yang kabur atau mencoba berbuat curang. Hanya pihak keluarga yang boleh masuk dalam gubuk kami.

Sebelum tidur, Bapak menemuiku. Ia memberikan sebuah cerulit dan mengatakan bahwa celurit ini tidak akan kalah dengan mandau lawanku nanti. Inilah cerulit warisan dari Kyai Pratali, putra dari Demang dan Nyi Sumekar yang mendirikan Keraton Kota Anyar, sebagai asal-usul Kabupaten Sampang, Madura.

Setelah Bapak memberikan cerulit itu dan pergi, tidak lama kemudian Dyah menyelinap masuk ke dalam gubuk. Ia memandang cerulit yang masih aku genggam. Aku mempersilakannya duduk.

“Apa kau sungguh mencintai pemuda lokal itu atau hanya mencari gara-gara atas perjodohan ini?” Aku bertanya.

“Tidak. Aku sudah pasrah dengan perkawinan kita. Namun, aku mencintai dia.”

“Lalu, mengapa tidak kau menyelinap saja ke gubuk kekasihmu itu. Sebab, dapat saja ini menjadi malam terakhir kalian untuk bersama.” Aku sangat paham bahwa pernyataan ini tidak bijaksana. Aku semestinya tidak memiliki alasan kuat untuk membenci pemuda itu atau cemburu pada Dyah.

“Aku hanya”, Dyah mulai menjawab dengan wajah yang penuh resah. “Ingin meminta maaf. Aku mohon. Tadi siang, aku membuatkan tutul untukmu.” Lalu Dyah beranjak meninggalkan gubuk.

“Dyah”, aku memanggilnya sebelum ia benar-benar keluar dari gubuk. “Aku masih ingat dengan tatapan gertakanmu pertama kali yang kau berikan padaku saat membawa tutul dan apa yang kau ucapkan saat itu.” Setelah aku berucap demikian, aku mendengar isak dari dirinya dan ia lalu menyelinap keluar.

Aku memandang tutul itu di meja. Tidak ada yang tahu pasti apa yang diinginkan leluhur hingga bertahun-tahun aku dewasa. Sejarah tradisi dan kehendak Tuhan sama-sama menyimpan labirin dan teka-teki. Sekali lagi aku setuju, Ibu benar untuk biarkan kehendak luluhur dan Tuhan yang menentukan hidup ini. Aku ambil satu potong tutul itu dan aku sobek sebagiannya dengan gigiku. Aku lumat. Tutul ini terasa nikmat. Aku habiskan sebagiannya lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *